11:47

Seharusnya aku tak pernah mengenal kata keluh resah
Seharusnya aku diam dan mengilhami setiap kisah
Seharusnya aku menikmati segala zara kesakitan, dan
Seharusnya aku semakin kokoh ketika sendirian



Nelangsa,
Ia menghatuiku
Seperti sebuah benda tajam , tanpa anak panah menghantap seluruh tubuhku
Pertama, ia menikam mataku
Aku tak dapat melihat keindahan, yaitu kamu!
Selanjutnya, ia seperti melemparkan benda keras ditelingaku
Seketika aku pun tak dapat mendengar
Aku tak dapat lagi mendengar nyanyian merdu dari bibirmu yang selalu memujiku
Selanjutnya lagi, ia seperti meninjuku dengan tangannya mengarah pada hidungku
Sayang~
Aku tak dapat lagi mencium aroma tubuhmu yang selalu menenangkanku
Dan seterusnya, ia mengotak atik pikiranku, ia berikan beberapa statement tentang cinta kita
Aku risau,
Aku bingung,
Aku benci dengan ini!
Seperti sesal ingin kukatakan setelah ia menghantam seluruh inderaku tuk merasakan kehadiranmu

Tapi, apa tak ada lagi rasa itu?
Iya! Apa mungkin?
Tidak!
Ia bodoh. Ia tak tahu apa-apa
Kamu telah tersimpan, tertutup rapat, terikat erat-erat, dan takkan mungkin lepas
Bukan dari penglihatanku, bukan dari pendengaranku, bukan dari penciumanku.
Bukan!
Kamu, iya kamu!
Kamu telah tertanam dihatiku, yang tak tahu kapan benih itu kutanam, dan tak tahu kapan kan layu..
Karena yang ku tahu, benih itu takkan mati, ia hanya akan terus tumbuh hingga menghadirkan benih baru kembali dan seterusnya :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan indah akhir pengkhianatan !!!

Nelangsa

BALIK LAGI !!!!